Manusia dan Pemikiran

MANUSIA DAN PEMIKIRANNYA Penyusun : Zumrotus Sholihah B04219037 Ali Zainal Abidin B74219038 Dina Putri Meilani B74219039 MD D2 Dosen Pengampu : Baiti Rahmawati, M.Sos PRODI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah pada waktunya. Semuanya tidak terlepas dari rahmat dan rahim serta pertolongan-Nya, sehingga semua hambatan dan kendala yang kami hadapi dapat diselesaikan dengan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw. yang telah membimbing umatnya ke jalan yang benar dan diridlai-Nya. Makalah ini membahas tentang manusia dan pemikiran dengan sub judul antara lain, pengertian manusia dan akal pemikiran, manusia sebagai makhluk berakal, proses lahirnya pemikiran manusia, rasa ingin tau manusia serta perkembangan atau tahapan pemikiran manusia. Yang berisi lima puluh lembar dan tiga puluh refrensi. Terima kasih juga kami ucapkan kepada Bu Baiti selaku dosen pembimbing mata kuliah IAD-ISD-IBD, kemudian teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya, dan tidak lupa kami berterima kasih kepada tukang percetakan yang telah membantu kami sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi. Tim Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 2 BAB I 5 A. Pengertian 5 B. Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal 17 C. Proses lahirnya pemikiran manusia 19 D. Tingkatan Berpikir Pada Manusia 29 E. Manusia berpikir secara ilmiah 29 F. lmu Pengetahuan Perspektif Islam 42 KESIMPULAN 48 DAFTAR PUSTAKA 49 BAB I Pengertian Definisi manusia yang dikemukakan ilmuan sangat beragam tergantung dari aspek mana ia meneliti dan mengkajinya. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial karena ia melihat dari aspek sosialnya. Sebagian lagi berkomentar bahwa manusia adalah binatang cerdas yang menyusui atau makhluk yang bertanggung jawab atau makhluk membaca dan tertawa, dan lain-lain sebagainya. Jika diamati lebih mendalam sifat-sifat dan karakter manusia, khususnya bahwa manusia itu mempunyai bahasa yang teratur, mempunyai keahlian untuk berbicara, berfikir, mamiliki kepekaan sosial, mempunyai apresiasi estetika dan rasa yang tinggi serta mampu melakukan ritual ibadah kepada sang pencipta maka wajarlah jika para filosof agama (Yahudi, Kristen dan Islam) mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang unik dari asal yang suci, bebas dan dapat memilih. Manusia adalah adalah mahluk dominan di bumi ini, juga merupakan makhluk Tuhan yang otonom, berdiri sendiri yang tersusun atas kesatuan harmoni jiwa-raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat. Berbeda dari makhluk lain, manusia mempunyai ciri yang istimewa karena memiliki kemampuan berfikir yang ada dalam satu struktur dengan perasaan dan kehendaknya atau sering disebut sebagai makhluk berkesadaran. Semakin mendalami manusia maka semakin tidak tahu karena begitu banyaknya aspek yang harus diperhatikan dalam mengkajinya, sehingga wajar jika muncul sebuah pernyataan (terlepas dari perdebatan apakah hadis atau perkataan sahabat) bahwa orang yang mengetahui akan dirinya berarti dia telah mengetahui Tuhannya. Betapa membingungkannya manusia, hingga bermunculan berbagai teori tentangnya. Di antara teori tersebut adalah teori evolusi yang ditawarkan Charles Darwin yang diyakini benar oleh sekelompok orang. Teori tersebut merupakan hasil penelitian yang membutuhkan pembuktian keabsahan teori tersebut. Teori evolusi yang menyatakan bahwa spesies makhluk hidup terus-menerus berevolusi menjadi spesies lain, namun ketika dibandingkan makhluk hidup dengan fosil-fosil mereka, ditemukan bahwa mereka tidak berubah setelah jutaan tahun lamanya. Manusia juga bisa diartikan sebagai hewan paling unik dan paling sempurna yang melata di muka bumi ini. Perbedaan manusia dengan makhluk lain itu sangat tampak dan jelas. Manusia memiliki akal, berbudi luhur dan dapat memilih dan memilah sesuatu yang ingin diperbuatnya. Akan tetapi asal usul manusia hingga saat ini masih misteri bagi kalangan ilmuan sehingga Alexis Carrel (1873-1944) seorang ilmuan dan dokter berkebangsaan Perancis dan telah meraih dua kali nobel perdamaian menulis buku yang berjudul Manusia adalah Makhluk yang Belum Dikenal. Dari sekian banyak penemuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah tentang asal usul kejadian manusia. Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa makhluk hidup (manusia) berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus. Di lain pihak, banyak intelktual muslim dan agamawan yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. Hal ini didasarkan pada berita-berita dan informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci masing-masing agama yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya termasuk proses penciptaannya akan tetapi hanya mampu mengetahui dari aspek tertentu manusia. Dari penjelasan singkat ini, agamawan memberikan komentar bahwa pengetahuan tentang manusia sedemikian sulit karena manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh ilahi. Sedangkan pengertian manusia menurut beberapa para ahli seperti yang dikemukakan oleh Ludwing Binswanger yaitu manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk mengada, suatu kesadaran bahwa ia ada dan mampu mempertahankan adanya di dunia. Kemudian menurut Jujun S. Suriasumantri manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan among (unique) di dalam ekosistem, namun juga amat tergantung pada ekosistem itu dan ia sendiri bahkan merupakan bagiannya. Lalu menurut Thomas Aquinas, beliau mengatakan bahwa manusia adalah suatu substansi yang komplit yang terdiri dari badan dan jiwa. Menurut Augustinus, bahwa badan dan jiwa adalah dua perkara yang sangat berbeda satu sama lain, sebab kalau yang pertama (badan), maka yang kedua (jiwa) sifatnya yang khas satu-satunya ialah berpikir'. Karena itu perasaan dan pengenalan terhadap jiwa bersifat langsung, karena pikiran tidak memerlukan perantara dalam mengenal dirinya sendiri. Selama jiwa itu berpikir, maka artinya ia ada, karena pemikirannya sama benar dengan wujudnya. Seseorang bisa melepaskan diri dari badannya, dan dari alam luar dengan segala peristiwa-peristiwanya, serta mengingkari segala macam kebenaran, dan meragukan segala sesuatu. Namun seseorang tidak bisa melepaskan diri sama sekali dari jiwanya yang menjadi sumber keraguan dan pemikirannya itu. Ibnu Sina sependapat dengan Aristoteles, yaitu tentang kesempurnaan tubuh organik yang memberi kekuatan hidup. Perkataan sempurna disebut dalam bahasa latin dengan actus primus dan dalam bahasa arab disebut dengan kamil. Aristotoeles mengatakan, bahwa jiwa itu termasuk bentuk tubuh, akan tetapi Ibnu Sina membaginya dengan tiga jenis, yaitu kekuatan, bentuk dan sempurna. Kalau jiwa itu dipandang kepada tindakannya, ia bernama kekuatan, dan kalau jiwa disebut sempurna, ia dipandang sebagai peri manusia. Untuk memahamkan filsafat Ibnu Sina tentang ilmu jiwa, harus dirasakan dalam pikiran, bahwa yang dikatakan sempurna, tidak sama dengan sempurna yang dimaksudkan oleh Aristoteles sebagai actus primus. Pokok kesukaran yang terbesar yang dihadapi Ibnu Sina adalah dalam soal membedakan antara jiwa dan akal. Meskipun jiwa itu tidak dapat diserupakan dengan akal, akan tetapi yang sebenarnya akal itu bagian dari jiwa. Menurut teori Plotinus, jiwa adalah limpahan dari akal. Himpunan dalam kitab-kitab Ibnu Sina dapat disimpulkan bahwa akal adalah satu kekuatan yang terdapat dalam jiwa. Jiwa adalah lebih bersifat umum dari pada akal: "jiwa baru bisa dinamakan jiwa kalau jiwa bertindak dalam tubuh, kalau jiwa bertindak terpisah, maka jiwa itu lebih banyak merupakan akal". Sebenarnya jika diartikan dalam teori sosiologi manusia adalah makhluk sosial yang artinya Sebuah konsep ideologis dimana masyarakat atau struktur sosial dipandang sebagai sebuah “organisme hidup”. Manusia tersebut tidak bisa hidup sendiri dan sangat mebutuhkan orang lain. Manusia akan berhubungan secara timbal balik dengan manusia lainnya. Pada dasarnya manusia di ciptakan selalu berpasangan, mengapa? Karena agar manusia tersebut bisa berpikir, bisa bekerja sama dan saling bertukar pikiran antara manusia yang lainya sehingga dapat melengkapi dari kekurangan masing masing. Manusia juga diciptakan oleh Allah SWT denga memiliki karakteristik yang khas. Tujuan manusia diciptakan selain untuk beribadah juga diwajibkan untuk mencari ilmu, agar mereka tahu dan bisa mengembangkan ilmu tersebut menjadi inovasi atau penemuan baru yang nantinya juga dapat bermanfaat bagi semua umat manusia yang lainnya. Pemikiran adalah sebuah istilah yang bergantung pada pandangan seseorang berkenaan dengan metafisika, universalitas, dan efistemologi dengan menggunakan suatu dialog batin ,yang menggunakan ide-ide abstrak yang sama sekali tidak fiktif, yang memiliki realitas sendiri untuk melahirkan ide-ide umum, yang mungkin saja bercorak epifenomenalisme ( penampakan sisi luar ). Apabila sesuatu telah di teorikan ( konsep ), pemikiran adalah elagurasi terhadap sebuah teori atas dasar tuntunan fenomena-fenomena, konteks, atau realitas. Akal Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang sempurna, hal ini karena manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lainya. Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 49 kali disinggung tentang pengertian akal, kesemuanya menganjurkan dan mensyaratkan penggunaan akal itu dalam rangka mencapai kesuksesan hidup. Dan sebaliknya bagi orang yang tidak berakal (tidak berfungsi akalnya) agama melepaskan dari segala kewajiban yang melekat padanya. Akal memiliki arti daya upaya, ikhtiar, jalan maupun cara untuk melakukan sesuatu. Endang Saifuddin Anshari mengatakan akal adalah salah satu potensi manusia yang berkesanggupan untuk mengerti dan memahami sedikit tentang realitas kosmis kemudian mengolah dan merubah sebatas kemampuan serta menjelajahi dunia rohaniah. Akal berasal dari bahasa arab yaitu al-aqlu merupakan kemampuan yang diberi Allah SWT kepada manusia yang melekat dengan fungsi otak. Sebab otak manusia memiliki keistimewaan untuk mengaitkan fakta yang diindera dengan informasi. Berbeda dengan otak hewan, dimana otak hewan tidak memiliki kemampuan mengaitkan fakta yang diindera dengan informasi. Oleh sebab itu hewan tidak dapat dididik bertingkah laku yang baik dan sopan, meskipun ia memiliki otak. Hewan tidak mampu membuat kesimpulan karena otaknya tidak sama dengan manusia. Fungsi akal dapat dilihat jika diperhatikan dalam penggunaan kata “akal” di dalam Al-Qur’an yaitu di surah Al-Mulk, ayat 10: وقالولوكنانسمعاونعقلماكنافياصحبالسعير Artinya: “Dan mereka berkata:Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Akal adalah karunia yang paling besar, oleh karena itu harus dijaga, akal yang dijadikan Allah buat manusia sebagai makhluk yang tertinggi jatuh ke neraka, dengan akal manusia mampu menjaga adabnya kepada Allah, mampu menjaga adabnya kepada alam dunia. Orang cerdas adalah orang yang pandai menghitung secara cermat, bekerja di dunia untuk kepentingan akhirat. Hati dan Naluri Allah SWT juga telah menciptakan potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah) pada diri manusia, yang berupa naluri ( al-Gharizah ) Naluri pada manusia terdiri dari : Naluri beragama (Gharizatut Taddayun) Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa) Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau’) Naluri melangsungkan keturunan, penampakannya akan mendorong manusia melangsungkan jenis manusia sebagai penampakan dari naluri ini, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa kebapa-ibuan, rasa cinta, rasa sayang pada orang orang tua, dan lain-lain. Adanya naluri ini telah banyak diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Contohnya rasa suka terhadap lawan jenis, Allah SWT berfirman pada Quran surat Yusuf ayat 24 : وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِۦ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَآ أَن رَّءَا بُرْهَٰنَ رَبِّهِۦ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ artinya : Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Kebutuhan jasmani Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan yang paling mendasar, merupakan hasil dari kerja struktur organ tubuh manusia. Apabila kebutuhan mendasar tersebut tidak terpenuhi, maka struktur organ tubuhnya akan mengalami kerusakan. Sebagai contoh, apabila tubuh manusia kekurangan air, maka kerja organ tubuhnya akan mengalami gangguan yang kemudian akan menyebabkan penyakit. Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan organ tubuh yang berkaitan dengan kadar tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada manusia atau hewan. Apabila kurang atau justru berlebih maka tubuh manusia akan mengalami penyakit. Maka ari itu kita sbagai manusia wajib merawat dan menjaga tubuh dan jasmani kita karena jika tidak, bisa menyebabkan penyakit bahkan sampai pada kematian. Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal Manusia menurut pola pemikiran biologis Menurut pola pemikiran ini, manusia dan kemampuan kreatifnya dikaji dari struktur fisiologisnya. Salah satu tokoh dalam pola ini adalah Portmann yang berpendapat bahwa kehidupan manusia merupakan sesuatu yang bersifat sui generis meskipun terdapat kesamaan-kesamaan tertentu dengan kehidupan hewan atau binatang. Dia menekankan aktivitas manusia yang khas, yakni bahasanya, posisi vertikal tubuhnya, dan ritme pertumbuhannya. Semua sifat ini timbul dari kerja sama antara proses keturunan dan proses sosial-budaya. Aspek individualitas manusia bersama sifat sosialnya membentuk keterbukaan manusia yang berbeda dengan ketertutupan dan pembatasan deterministis binatang oleh lingkungannya. Manusia tidak membiarkan dirinya ditentukan oleh alam lingkungannya. Menurut pola ini, manusia dipahami dari sisi internalitas, yaitu manusia sebagai pusat kegiatan intern yang menggunakan bentuk lahiriah tubuhnya untuk mengekspresikan diri dalam komunikasi dengan sesamanya. Manusia menurut pola pemikiran Religius Pola pemikiran ini bertolak dari pandangan manusia sebagai homo religiosus. Salah satu tokohnya adalah Mircea Eliade. Pandangan Eliade dapat dilihat pada tulisan Mangunhardjono dalam buku Manusia Multi Dimensional: Sebuah renungan filsafat, 1982:38). Menurut Eliade, homo religiosus adalah tipe manusia yang hidup dalam suatu alam yang sakral, penuh dengan nilai-nilai religius dan dapat menikmati sakralitas yang ada dan tampak pada alam semesta, alam materi, alam tumbuh-tumbuhan, dan manusia. Pengalaman dan penghayatan akan Yang Suci ini selanjutnya mempengaruhi, membentuk, dan ikut menentukan corak serta cara hidupnya. Eliade mempertentangkan homo religiosus dengan alam homo non-religiosus, yaitu manusia yang tidak beragama, manusia modern yang hidup di alam yang sudah didesakralisasikan, bulat-bulat alamiah, apa adanya, yang dirasa atau yang dialami tanpa sakralitas. Bagi manusia yang nonreligiosus, kehidupan ini tidak sakral lagi, melainkan profane saja. Proses lahirnya pemikiran manusia Rasa Ingin Tahu / Keingintahuan (Curiosity) Akal budi menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu memerlukan jawaban yg akhirnya hasilkan pengetahuan. Makin besar rasa ingin tahu makin banyak pengetahuan yang diperoleh. Ilmu pengetahuan memang bermula dari rasa ingin tahu, hal ini merupakan ciri khas manusia. Pengetahuan berawal dari keinginan ketahuan manusia terhadap sesuatu yang dibekali hasrat ingin tahu. Makin besar rasa ingin tahu makin banyak pengetahuan yang diperoleh. Sifat ingin tahu manusia sudah terlihat sejak anak-anak. Manusia juga selalu berusaha mencari jawaban berbagai macam pertanayaan, dari dorongan ingin tahu manusia yang berusaha untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Manusia dalam hidupnya harus berbekal pengetahuan, sehingga mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Perkembangan atau tahapan pemikiran manusia. Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci(fitrah) dan menyusun drama kehidupannya sesudah kelahiran dan bukan sebelumnya. Tidak peduli terhadap lingkungan keluarga maupun masyarakat macam apa dilahirkan, oleh sebab itu setiap mannusia dilahirkan dalam keadaan suci. Menurut pendidikan dan psikologi membagi perkembangan sifat dan alam pikiran manusia secara kronologis mulai masa bayi, masa kanak-kanak, masa usia sekolah, masa remaja, dan masa dewasa. Berikut penjelasan secara rinci. Masa bayi Lahir sampai dengan 2 tahun, usia ini merupakan masa bayi, namun perkembangan fisik mrengalami kecepatan yang sangat luar biasa, paling cepat dibandingkan usia selanjutnya. Berbagai karakteristik yaitu mempelajari ketrampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan. Juga mempelajari ketrampilan menggunkan panca indera seperti melihat, mendengar, meraba, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya. Masa kanak-kanak Pada usian 3-5 tahun ini terdapat beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya, yang secara fisik masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Berbagai karakteristik yaitu 1. Mulai belajar mengembangkan emosi. Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Yang diawali dengan berceloteh. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran. Sangat aktif dalam mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar luar biasa. Masa usia sekolah Usia mulai 6-12 tahun, perkembangan fisik dan penguasaan motorik cukup baik. Pada masa ini juga sudah mulai dilatih secara berangsur-angsur. Dari mulai belajar membaca hingga memiliki rasa persahabatan terhadap hubungan dengan orang lain. Masa remaja Usia 13-20 tahun, masa remaja adalah masa pertentangan. Remaja biasanya berusaha mengekspresikan seolah-olah dirinya sebagai orang dewasa, ingin ikut serta dalam kehidupan orang dewasa.23 Padahal secara aspek-aspek tertentu seperti emosional,fisik,dan mental mereka belum sanggup berbuat demikian. Masa remja pada umumnya belum dapat mengendalikan emosi. Sehingga terjadi konflik atau pertentangan baik dalam diri remaja sendiri maupun dirinya dengan orang dewasa. Biasanya para remaja mengaitkan dirinya dengan idola-idola atau tokoh yang mereka idolakan. Sehingga mereka berdandan sedemikian rupa layaknya orang yang mereka idolakan, karena memiliki sifat labil. Masa dewasa Usia lebih dari 20 tahun ditandai dengan adanya kemampuan individu. Kemampuan tersebut seperti mampu mengontrol tingkah lakunya secara pasti dan memiliki tanggung jawab yang tinggi. Menurut Zakiah Darajat(19990:23) remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak masih mengalami masa pertumbuhan perkembangan sifat dan pengetahuan. Masa remaja yaitu masa yang dimana banyak menarik perhatian terhadap masyarakat, bahwa memiliki sifat-sifat khas yang nantinya akan menentukan kedalam masyarakatnya. Oleh karena itu manusia hidup dalam alam kultur dan bisa menempatkan dirinya diantara nilai-nilai kultur tersebut, agar bisa mengenal siapa dirinya juga meneliti sikap hidup yang lama dan terus mencobanya yang baru agar bisa menjadi seorang pribadi yang dewasa. Jadi pada dasarnya, kita rinci kedalam beberapa masa yaitu: 24 Masa dewasa Usia lebih dari 20 tahun ditandai dengan adanya kemampuan individu. Kemampuan tersebut seperti mampu mengontrol tingkah lakunya secara pasti dan memiliki tanggung jawab yang tinggi. Menurut Zakiah Darajat(19990:23) remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak masih mengalami masa pertumbuhan perkembangan sifat dan pengetahuan. Masa remaja yaitu masa yang dimana banyak menarik perhatian terhadap masyarakat, bahwa memiliki sifat-sifat khas yang nantinya akan menentukan kedalam masyarakatnya. Oleh karena itu manusia hidup dalam alam kultur dan bisa menempatkan dirinya diantara nilai-nilai kultur tersebut, agar bisa mengenal siapa dirinya juga meneliti sikap hidup yang lama dan terus mencobanya yang baru agar bisa menjadi seorang pribadi yang dewasa. Jadi pada dasarnya, kita rinci kedalam beberapa masa yaitu: Awal remaja (umur 13-15 tahun) Pada masa ini cepatnya dalam pertumbuhan yang membawa kejanggalan, serta memperlihatkan kurangnya koordinasi anatara pikiran dan badan. Pada usia ini sekarang telah mencapai puncaknya dan mulai surut digantikan oleh ketertarikan lawan jenis juga disertai dengan memiliki perasaan malu. Perkembangan mental telah membuat pegangan yang pasti menyebabkan remaja lebih kritis dan memiliki banyak waktu untuk berkhayal serta memikirkan tentang masa kedepannya dan yang akan dikerjakan nantinya. Ketertarikan pada hal-hal yang bersifat rohani dan hal-hal bersifat semangat mulai menjadi masalah pengalaman daripada penerimaan banyak fakta. Pertengahan remaja (umur 16-17 tahun) Pertumbuhan berlanjut dengan cepat dimana pada periode usia remaja ini dalam banyak hal mencapai ketinggian fisiknya. Pada waktu masa lalunya masih mencari jati dirinya. Sekarang mulai bisa mengembangkan rasa individualitasnya dan menjadi seorang yang memiliki keputusannya sendiri. Akhir remaja (umur 18-24 tahun) Secara fisik dalam akhir remaja ini yaitu waktu yang lambat untuk bertumbuh. Kepribadian muncul dan karakterr menjadi tetap. Keraguan apapun akan berhubungan dengan keagamaan juga dipikirkan dan suatu dasar yang memuaskan dalam penemuan iman adalah penolakan terhadap barang peninggalan pada masa lalu. Ketertarikan pada lawan jenis telah menemukan pemecahnya menjadi cinta dan rumah tangga sehingga terbentuknya membangun sebuah rumah tangga. Kemudian perkembangan Fisik, Sifat, dan Pikiran Manusia dapat ditinjau dari 2 segi, yaitu berdasarkan waktu dan individu manusia. Berdasarkan waktu : pola pikir manusia berkembang dari jaman purba sampai sekarang. Dlm perjalanan waktu pola pikir manusia berkembang sesuai jamannya, hingga terkumpul pengetahuan-2 sbg hasil bertanya, meneliti / menyelidiki, atau mencermati penelitian orang lain. Berdasarkan individu manusia : pola pikir manusia berkembang dari sejak ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Dalam perjalanan kehidupan seseorang ia akan selalu belajar sesuai dgn tahap perkembangan mental dan fisiknya hingga diperoleh kumpulan pengetahuan, baik sbg hasil belajar dari lingkungan & pengalaman pribadi maupun secara formal di sekolah. Perkembangan pola pikir manusia juga dpt disebabkan bukan hanya rasa ingin tahu (dari dalam diri) tetapi desakan keadaan yg mengharuskan manusia menggunakan akal pikirannya untuk mencari pemecahannya atau desakan kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya. Tingkatan Berpikir Pada Manusia Berpikir dangkal Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir yang hanya melihat sesuatu dan membuat kesimpulan berkenaan dengan sesuatu itu tanpa disertai pemahaman. Berpikir mendalam Yaitu tingkat berpikir yang lebih tinggi dari berpikir dangkal, seperti berupaya untuk lebih mendalam memahami fakta dan mendalam mengaitkanya dengan informasi. Berpikir cemerlang Yaitu berpikir lebih mendalam ditambah dengan segala sesuatu yang ada di sekitar fakta dan yang berkaitan dengan fakta untuk bisa sampai pada kesimpulan yang benar. Manusia berpikir secara ilmiah Metode berpikir secara ilmiah pada dasarnya adalah sejumlah pengetahuan yang berkaitan dengan cara atau jalan yang di tempuh oleh pikiran manusia untuk mencapai kesimpulan atau putusan yang sah dan benar ( valid and true judgment ). Semenjak Rene Descrates (abad ke- 15) mendengungkan motto perjuangkan ilmiah yang dituangkan dalam tesisnya : cogito ergo sum, yang berarti “ku berpikir, oleh sebab itu aku ada” posisi kesadaran manusia sebagai sumber untuk mencari kebenaran menjadi sangat tinggi. “semenjak aku berpikir itulah aku menydari bahwa dirku ada. Jika aku tidak berpikir, maka tentu saja kesadaranku akan hilang, dan akhirnya aku menjadi tak ada”. Sesungguhnya tesis descrates ini adalah suatu perlawanan dan pergolakan terhadap zaman sebeluya” yaitu, manusia kehilangan hakikat dirinya karena tenggelam dala dunia kepercayaan yang dokmatik ( zaman abad pertengahan ). Berpangkal tolak dari kemapuan manusia untuk memperoleh pengetahuan umum, bisa dibedakan menjadi empat jenis pengetahuan umum yaitu : 1. Mitos dan religius 2. Kefilsafatan/filosofis 3. Ilmiah 4. Seni. Adanya berbagai pendekatan cabang ilmu dan pengertian khusus yang sifatnya beda satu sama lain apabila mengikuti pembagia diatas maka terdapat empat jenis pengetahuan : 1. Religius dalam religi 2. Filosofis dalam dunia filsafat 3. Ilmiah dalam dunia ilmu 4. Estesis dalam dunia seni. Metode berpikir ilmiah adalah suatu pengetahuan yang berkaitan dengan bagaimana mencapai suatu tujuan bepikir yang optimal. Tujuan berpikir ilmiah adalah untuk memperoleh putusan akal dan kesimpulan yang sah dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara mendorong mendorong manusia untuk memikirkan pola berpikir yang akurat dengan hasil yang maksimal. Tatanan cara berpikir yang akurat harus ditempuh untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Manusia berpikir secara Rasionalisme Arti dari Rasionalisme sendiri yaitu paham atau gerakan rasionalis dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, bukan berasal dari pengalamaninderawi. Rasionalisme menentang paham empirisme, karena kaum rasionalis berpendapat bahwa ada kebenaran yang secara langsung dapat dipahami. Dengan kata lain, orang-orang yang menganut paham rasionalis ini menegaskan bahwa beberapa pr insip rasional yang ada dalam logika, matematika, etika, dan metafisika pada dasarnya benar. Aliran ini berpandangan bahwa pengetahuan bersumber pada rasio atau akal, ketika memutuskan menyelesaikan suatu masalah. Aliran ini berpendapat di dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu manusia dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Akal memperoleh bahan lewat indra, kemudian diolah oleh akalmenjadi pengetahuan. Rasionalisme mendasarkan metode deduksi, yaitucara memperoleh kepastian melalui langkah-langkah metodis yang bertitiktolak dari hal-hal yang bersifat umum untuk mendapat kesimpulan yangbersifat khusus.Salah seorang tokoh rasianalis berpengaruh bernama ReneDescartes, membedakan tiga ide yang ada dalam diri manusia, yaitu: (a) Ide-ide yang dibawa manusia sejak lahir. (b) Ide-ide yang berasal dari luar diri manusia. (c) Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. Motto Descartes, adalah cogito ergo sum, artinya saya berpikir,maka saya ada, dande omnibus dubitandum,artinya ragukan segalasesuatu itu. Tokoh-tokoh rasional abad modern antara lain : ReneDescartes, Nicholas Malerbrance, Spinoza, Gottfried, Wilhelm Leibnis,Christian Wolf, dan Blaise Pascal. Manusia berpikir secara Empiris Berpikir empiris disini adalah berpikir secara sistematis dengan memperhitungkan data yg ada. Seringkali dalam mengambil keputusan kita memutuskan sesuatu dari analisa yg salah, analisa yg salah ini bisa dari bermacam2 hal, bisa dari pengambilan data yang salah sehingga didapat analisa yang juga salah. Berpikir empiris bukan saja diterapkan dalam lingkungan kerja tapi juga dalam keseharian kita, seringkali kita terlalu cepat menghakimi sesuatu atau seseorang karena kita terlalu cepat menganalisa padahal data yang kita punya kurang, sehingga analisa kita menjadi tidak valid, kesimpulan yg didapat juga akan menjadi tidak valid, sehingga terkesan menghakimi dan tidak benar, dan parahnya jika pendapat kita yg salah ini lalu diikuti oleh orang banyak, bisa dikatakan kita ini adalah kepala dari kesalahan, karena itu dalam mengambil kesimpulan kita harus memperhitungkan beberapa hal yaitu data, analisa, dugaan. Sedangkan menurut aliran filsafat adalah empiris yang menegaskan bahwa pengalaman sebagai sumberpengetahuan. Kaum empiris berpendirian semua pengetahuan diperolehlewat indra. Indra memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudianterkumpul dalam diri manusia, lalu menjadi pengalaman. Pengetahuan yangberupa pengalaman terdiri atas penyusunan dan pengaturan kesan-kesanyang bermacam-macam. Istilah Empiris berasal dari kata emperia dalam bahasa Yunani berarti pengalaman indrawi. Empiris sangat berlawanan dengan aliran Rasionalis. Tokoh aliran ini, Thomas Hobbes yang lahir di Inggris. Beliau, mengatakan : pengalaman permulaan segala pengenalan. Kemudian, JohnLocke dengan teori “tabularasa” rasio manusia harus dilihat seperti “lembaran kertas putih” dan tokoh lain George Berkeley, dan David Hume. Manusia berpikir secara kritisme Berpikir kritis adalah konsep untuk merespon sebuah pemikiran atau teorema yang kita terima. Respon tersebut melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis. Sedangkan menurut aliran filsafat adalah kritisme yang memadukan antara Rasionalisme dan Empirisme. Menurut aliran ini, baik rasionalisme atau empirisme tidak seimbang. Pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsur-unsuraspriori (terlepas dari pengalaman) dengan unsur-unsu rapos teriori (berasal dari pengalaman). Tokohkritsisme adalah Imanuel Kant. Aliran Kritisis memiliki ciri-ciri yang dapat disimpulkan dalam tiga hal : (a) Menganggap objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek. (b) Menegaskan keterbatasan kemampuan akal manusia untuk mengetahui realitas dan hakikat sesuatu, akal hanya mampu menjangkau gejala dan fenomenanya saja. (c) Pengenalan manusia terhadap sesuatu diperoleh dari perpaduan antara unsur akal dan pengalaman. manusia berpikir secara matrealisme Aliran ini berpandangan bahwa materi itu ada sebelum jiwa (self), dan dunia materi adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia adalah nomor dua. Materialisme modern mengatakan bahwa alam “universe” merupakan kesatuan material yang tak terbatas termasuk di dalamnya segala materi, energi (gerak dan tenaga) selalu ada dan akan tetap ada, dan alam adalahrealitas yang keras, objek yang dapat diketahui manusia. Aliran materialisme terbagi dua macam : meterialisme mekanik, semua bentuk dapat diterangkanmenuruthukum yang mengatur materi dan gerak. materialisme dialektik, dan tokoh sentralnya Karl Marx, menilai duniamisterius ini konstan, baik dalam gerak, perkembangan, maupun regenerasinya, materi adalah primer sedangkan ide atau “kesadaran” adalah sekunder. Manusia berpikir secara Edalisme Menekankan akal “mind” sebagai hal yang lebih dahulu “primer” daripada materi, bahwa akal itulah yang real dan materi hanyalah produk sampingan. Aliran ini mengatakan realitas terdiri dari, ide-ide, pikiran-pikiran, akal, jiwa, dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme berpendirian bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental dan proses-proses psikologis yang sifatnya subjektif. Pengetahuan tidak menggambarkan kebenaran yang sesungguhnya, atau pengetahuan tidak memberikan gambaran yang tepat tentang hakikat sesuatu yang berada di luar pikiran manusia. Idealisme terbagi menjadi tiga faham : Idealisme subjektif immaterialisme, akal, jiwa, dan persepsi-persepsinya dan ide-ide merupakan segala yang ada, tetapi hanyadalam akal yang mempersepsikannya. Idealisme objektif, pikiran adalah esensi dari alam, dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobjektifkan. Tokohnya adalah Plato. Ia membagi dunia dalam dua bagian, yaitu dunia persepsi dan alam diatas alam benda, disebut alamkonsep,ide,univesal, atau esensiyang abadi. Idealisme personal atau personalisme, keinginan pribadi. Manusia berpikir secara Positiveme Positivisme berasal dari kata “positif” yang berarti factual, yaitu apayang berdasarkan fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Positivisme senada dengan empiris sebagai sumber pengetahuan. Perbedaan Positivisme dengan empiris adalah positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta-fakta belaka. Tokoh positivisme yang terkemuka adalah Auguste Comte, dengan karyanya yang terkenal adalah ‘Cours de Philosophie Positive (Kursustentang Filsafat Positif)’. Aliran positvisme ini banyak diikuti oleh orang-orang yang beranggapan bahwa, untuk memperoleh ilmu yang tepat, harus berdasarkan faktanya (apa adanya), tidak dibuat-buat atau direkayasa hasilnya. Manusia berpikir secara Pragmatisme Pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokoh utama aliran ini, William James, John, dan George Herbert Mead.Pragmatisme, tidak mempersoalkan hakikat pengetahuan, melainkan menanyakan apaguna pengetahuan tersebut. Daya pengetahuan hendaklah dipandang sebagai sarana bagi perbuatan. Manusia berpikir secara Sekularisme adalah, sistem etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, Kitab suci, dan hari kemudian (Juhaya S.P. 2003). Sedangkan menurut Encyclopedia Americana lebih menonjolkan sekularisma sebagai sesuatu sistem etika yang didasarkan atas prinsip-prinsip moralitas alamiah dan bebas dari agama wahyu dan spiritual. Prinsip esensial dari sekularisme ini ialah mencari kemajuan manusia dengan alat materi semata-mata. Dengan demikian, jelaslah bahwa sekularisme masuk dalam kategori materialisme. Tokoh pendiri sekularisme adalah Jacob Holyaoke yang merupakan bentuk peniadaan peran warna Kristiani pada seluruh kehidupan Barat, baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya pada umumnya. lmu Pengetahuan Perspektif Islam Ilmu pengetahuan adalah usaha yang bersifat multi dimensional, sehingga dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan tidak baku. Al-Attas berpendapat bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan secara ketat, ia hanya dapat dijelaskan dan penjelasan ini hanya lebih mengacu kepada sifat-sifat dasar pengetahuan tersebut. Pengetahuan yang dimiliki manusia adalah tafsiran terhadap pengetahuan dari ALLAH. Menurut Al-Attas, dilihat dari sumber hakiki pengetahuan tersebut, maka pengetahuan adalah kedatangan makna suatu objek kedalam jiwa. Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, bahkan ALLAH SWT sendiri melalui Al-quran mengangkat derajat orang-oramg yang berilmu "niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang beriman di antara mu dan orang-orang yang diberi Ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al-Mujadillah:11) Pentingnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia, dipandang dari sudut ibadah sangat tinggi nilai pahalanya. Nabi Muhammad SAW bersabda "sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (menjelang petang) kemudian mempelajari suatu ayat dari kitab ALLAH yaitu Al-Quran, maka pahalamya lebih baik dari ibadah satu tahun". Hal denada di temukan di hadis lain yang artinya "barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia termasuk golongan fisabilillah (orang-orang yang menegakkan agama ALLAH) hingga sampai ia pulang kembali. Demikian pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga ALLAH SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu sebagai bekal dirinya, baik dalam menjalani hidup dam memenuhi segala keperluan hidupnya. Sebagai sabda Rasulullah yang artinya "menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim". Nabi Muhammad SAW, mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu tanpa batas waktu: "tuntutlah ilmu dari lahir hingga ke liang lahat". Dengan demikian jelas bahwa islam menghargai ilmu pengetahuan dan merupakan kewajiban. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang berarti pengetahuan (al-ma’rifah), kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam. Dari asal kata ‘ilm ini selanjutnya di-Indonesia-kan menjadi ‘ilmu’ atau ‘ilmu pengetahuan.’ Dalam perspektif Islam, ilmu merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihād) dari para ilmuwan muslim (‘ulamā’/mujtahīd) atas persoalanpersoalan duniawī dan ukhrāwī dengan bersumber kepada wahyu Allah. Al-Qur’ān dan al-Hadīts merupakan wahyu Allah yang berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi umat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah. Al-Qur’ān memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap aktivitas ilmiah.Terbukti, ayat yang pertama kali turun berbunyi ; “Bacalah, dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Membaca, dalam artinya yang luas, merupakan aktivitas utama dalam kegiatan ilmiah. Di samping itu, kata ilmu yang telah menjadi bahasa Indonesia bukan sekedar berasal dari bahasa Arab, tetapi juga tercantum dalam al-Qur’an. Kata ilmu disebut sebanyak 105 kali dalam al-Qur’ān. Sedangkan kata jadiannya disebut sebanyak 744 kali. Kata jadian yang dimaksud adalah; ‘alima (35 kali), ya’lamu (215 kali), i’lam (31 kali), yu’lamu (1 kali), ‘alīm (18 kali), ma’lūm (13 kali), ‘alamīn (73 kali), Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-Buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984), hlm.1037.2Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lām (Beirut : Dār al-Masyriq, 1986), hlm. 527. 3A.Qadri Azizy, Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman, (Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI, 2003), hlm. 13. 4Al-Qur’an surat al-Alaq : 96 : 1. Ilmu Pengetahuan dalam Islam Tadrîs. Volume 3. Nomor 2. 2008 123 alam (3 kali), a’lam (49 kali), ‘alim atau ulama’ (163 kali), ‘allam (4kali), ‘allama (12 kali), yu’limu (16 kali), ‘ulima (3 kali), mu’allam (1 kali), dan ta’allama (2 kali). Selain kata ‘ilmu, dalam al-Qur’an juga banyak disebut ayat-ayat yang, secara langsung atau tidak, mengarah pada aktivitas ilmiah dan pengembangan ilmu, seperti perintah untuk berpikir, merenung, menalar, dan semacamnya. Misalnya, perkataan aql (akal) dalam alQur’an disebut sebanyak 49 kali, sekali dalam bentuk kata kerja lampau, dan 48 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. Salah satunya adalah : ”Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah adalah mereka (manusia) yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akalnya”. Di samping al-Qur’ān, dalam Hadīts Nabi banyak disebut tentang aktivitas ilmiah, keutamaan penuntut ilmu/ilmuwan, dan etika dalam menuntut ilmu. Misalnya, hadits-hadits yang berbunyi; “Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah” (HR. BukhariMuslim). “Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, malaikat akan melindungi dengan kedua sayapnya” (HR. Turmudzi). “Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, maka ia selalu dalam jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Muslim). KESIMPULAN Manusia adalah adalah mahluk dominan di bumi ini, juga merupakan makhluk Tuhan yang otonom, berdiri sendiri yang tersusun atas kesatuan harmoni jiwa-raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat. Berbeda dari makhluk lain, manusia mempunyai ciri yang istimewa karena memiliki kemampuan berfikir yang ada dalam satu struktur dengan perasaan dan kehendaknya atau sering disebut sebagai makhluk berkesadaran. Akal berasal dari bahasa arab yaitu al-aqlu merupakan kemampuan yang diberi Allah SWT kepada manusia yang melekat dengan fungsi otak. Sebab otak manusia memiliki keistimewaan untuk mengaitkan fakta yang diindera dengan informasi. DAFTAR PUSTAKA abdul gafar “manusia dalam prespektif al quran” dalam kedududukanya Staf Pengajar pada IAIN Sultan Qaimuddin Kendari, Volume 4 Nomor 2 Tahun 2016, hal. 3 Suparlan suhartono, Dasar-dasar Filsafat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), cet. 5, hlm. 11-26 abdul gafar “manusia dalam prespektif al quran” dalam kedududukanya Staf Pengajar pada IAIN Sultan Qaimuddin Kendari, Volume 4 Nomor 2 Tahun 2016, hal. 1 M. Quraish Shihab, Dia Ada Dimana-mana (Cet. IV; Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 111. M. Noor Matdawam, Manusia, Agama dan Kebatinan (Cet. V; Yogyakarta: Bina Karier, 1999), h. 10. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Cet. XVI; Jakarta: Mizan, 2005), h. 278. Bagus Takwin, Psikologi Naratif Membaca Manusia Sebagai Kisah, Yogyakarta: 2007, hlm. 4 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006, hlm. 237 Hardono Hadi, Jati Diri Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 33 A. Hanafi, Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1969, hlm. 141-142 Trianto, Wawasan Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: prestasi pustaka, 2007),32 https://tafsirweb.com/3762-quran-surat-yusuf-ayat-24.html pada tanggal 6 maret 2020 pukul 05.59 Bagong suyanto dan supinah, Metode penelitian sosial: berbagai alternatif pendekatan (Jakarta: kencana 2005) hal 1-2 Reira, “berpikir empiris”, http://rumahreira.blogspot.com/2010/04/berpikir-empiris.html, pada tanggal 06 maret 2020 pukul 03.38 Zawiyah,”Jurnal Pemikiran Islam”, Vol2,No1,Desember 2016 Al-Qur’an,Al-Mulk:10 Waway Qodratullah S,”Konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi”,Vol 8.No1, Maret 2016. T Saiful Akbar,”Manusia dan Pendidikan Menurut Pemikiran Ibn Khaldun dan John Dewey”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, Vol 15.No2, Februari 2015. Reza A.A. Wattimena,” Filsafat dan Sains” Jakarta:Grasindo,2008.hal 322. Husnuzzniadatul Khairi,”Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini Dari 0-6 Tahun”.Vol 2 No2, Desember 2018. Ade Wulandari,”Karakteristik Pertumbuhan Perkembangan Remaja dan Implikasinya Terhadap Masalah Kesehatan dan Keperawatannya”,Vol2,No1,Mei 2014. Khamim Zarkasih Putro,”Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja” APLIKASIA:Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu

Komentar

  1. thank u kak informasinya sangat membantu

    BalasHapus
  2. alhamdulillah sangat lengkap dan bagus sekali pembahasannya

    BalasHapus
  3. Sangat membantu, terimakasih atas pembahasan nya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah sangat bermanfaat

    BalasHapus
  5. semoga bermanfaat bagi orang lain

    BalasHapus
  6. terimakasih artikel nya sangat membantu, dan mudah difahami untuk pembaca

    BalasHapus
  7. Mantab nih, makasih udah membantu

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah sangat bermanfaat, barakallah sukses selalu

    BalasHapus
  9. alhamdulillah bermanfaat, pembahasan mudah di pahami

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah, artikelnya sangat membantu, kosa kata mudah dipahami.

    BalasHapus
  11. Mantabbbb,sukses selalu....

    BalasHapus
  12. Alhamdulilah sangat bermanfaat

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah, sangat membantu dan bermanfaat

    BalasHapus
  14. Wah, sangat membantu sekali informasinya dan pasti bisa bermanfaat bagi yang membacanya. 🙏😊

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah artikel pembahasan bermanfaat

    BalasHapus
  16. Menarik sih.. tapi terlalu banyak kata-kata.. jadi membuat orang bosan untuk membaca hingga akhir 😁

    BalasHapus
  17. pembahasannya sangat bagus dan dapat dipahami

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah.. semoga Bermanfaat materi.nya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upaya Masyarakat Dalam Merekonstruksi Kepedulian Lingkunagn Di Daerah Wonocolo, Surabaya